Jakarta, 15 September 2026 – Pemerintah China menyambut positif usulan Indonesia untuk memperkuat kolaborasi rantai pasok di antara negara-negara anggota BRICS sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan ekonomi dan memperdalam kerja sama perdagangan. Usulan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi BRICS di New Delhi, India, yang berlangsung pada 12–13 September 2026. Beijing menyatakan siap memperkuat koordinasi dengan Indonesia dan anggota lainnya untuk mendorong rantai industri serta rantai pasok yang lebih stabil, terbuka, dan saling menguntungkan. Kerja sama tersebut dinilai semakin relevan ketika perekonomian global menghadapi ketegangan geopolitik, hambatan perdagangan, serta berbagai gangguan logistik. Indonesia melihat BRICS memiliki kapasitas besar untuk membangun jaringan produksi dan distribusi yang lebih tangguh karena anggotanya memiliki kekuatan ekonomi dan sumber daya yang beragam. Respons China membuka ruang bagi pembahasan lebih konkret mengenai bagaimana negara-negara BRICS dapat menghubungkan kapasitas industri, logistik, investasi, dan perdagangan mereka.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan Beijing mendukung penguatan kerja sama praktis di antara negara-negara BRICS. China ingin bekerja bersama Indonesia dan anggota lainnya untuk memperluas kolaborasi pada berbagai bidang ekonomi yang memiliki manfaat bersama. Stabilitas rantai pasok menjadi salah satu perhatian karena gangguan pada satu kawasan dapat memberikan dampak terhadap kegiatan produksi di banyak negara. Pengalaman beberapa tahun terakhir memperlihatkan ketergantungan terhadap jalur atau pemasok tertentu dapat menciptakan kerentanan ketika terjadi konflik maupun hambatan perdagangan. BRICS memiliki peluang mengurangi risiko tersebut melalui diversifikasi sumber bahan baku, jalur logistik, kapasitas produksi, dan pasar. Kerangka kerja yang terkoordinasi diharapkan dapat membuat hubungan ekonomi antaranggota semakin kuat tanpa menutup perdagangan dengan negara di luar kelompok tersebut.
Indonesia menempatkan persoalan rantai pasok sebagai bagian dari kepentingan pembangunan ekonomi yang lebih luas. Sebagai negara dengan basis sumber daya alam besar dan sektor manufaktur yang terus berkembang, Indonesia membutuhkan jaringan perdagangan yang mampu memberikan kepastian terhadap pasokan bahan baku sekaligus akses pasar. Kerja sama dalam BRICS dapat dimanfaatkan untuk memperluas hubungan antara produsen, industri pengolahan, perusahaan logistik, dan pasar konsumen di berbagai negara anggota. Kolaborasi tersebut juga berpotensi meningkatkan investasi pada fasilitas produksi maupun infrastruktur pendukung. Namun, manfaatnya akan bergantung pada kemampuan setiap negara menyederhanakan hambatan perdagangan dan meningkatkan konektivitas. Perbedaan regulasi, standar produk, sistem kepabeanan, dan kapasitas infrastruktur menjadi sejumlah persoalan yang perlu diselaraskan secara bertahap.
BRICS sendiri telah membahas kerangka kerja sama logistik dan rantai pasok sebagai salah satu agenda ekonomi kelompok. Kerangka tersebut diarahkan untuk meningkatkan konektivitas lintas sektor, memperkuat ketahanan distribusi, serta membuat jaringan perdagangan lebih berkelanjutan ketika terjadi gangguan global. Pembahasan menjadi semakin penting setelah berbagai ketegangan geopolitik memengaruhi jalur pelayaran dan biaya transportasi internasional. Negara anggota memiliki kepentingan menjaga agar arus bahan pangan, energi, mineral, komponen industri, dan berbagai barang strategis tetap berlangsung. Sistem peringatan dini dan pertukaran informasi dapat membantu negara mengantisipasi gangguan sebelum berdampak lebih luas terhadap produksi. Peningkatan koordinasi logistik juga dapat mengurangi waktu dan biaya pengiriman antaranggota.
China memiliki posisi penting dalam pembahasan tersebut karena menjadi salah satu pusat manufaktur dan perdagangan terbesar dunia. Kemampuan produksi China mencakup berbagai sektor mulai dari elektronik, kendaraan, mesin industri, energi terbarukan, hingga produk konsumen. Indonesia pada sisi lain memiliki sumber daya mineral, basis produksi yang berkembang, pasar domestik besar, dan posisi geografis strategis pada jalur perdagangan Asia. Kombinasi tersebut menciptakan peluang kerja sama, tetapi Indonesia juga berkepentingan memastikan hubungan ekonomi menghasilkan peningkatan kapasitas industri nasional. Kolaborasi rantai pasok dapat diarahkan pada transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan nilai tambah produksi di dalam negeri. Dengan pendekatan tersebut, kerja sama tidak hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga memperkuat kemampuan industri masing-masing negara.
KTT BRICS 2026 turut menghasilkan berbagai gagasan untuk memperdalam integrasi ekonomi antaranggota. China mendorong pengembangan jaringan kawasan ekonomi khusus yang dapat memperkuat hubungan investasi dan produksi. Beijing juga mengusulkan sejumlah kerja sama teknologi, termasuk pengembangan ekosistem kecerdasan artifisial terbuka bagi negara anggota. Inisiatif tersebut memperlihatkan arah BRICS yang semakin menekankan kerja sama praktis setelah kelompok mengalami perluasan keanggotaan dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia sebagai salah satu anggota baru memiliki kesempatan untuk ikut membentuk prioritas kerja sama berdasarkan kebutuhan pembangunan nasional. Keterlibatan aktif diperlukan agar agenda kelompok dapat memberikan manfaat konkret bagi industri dan masyarakat Indonesia.
Penguatan rantai pasok juga memiliki kaitan langsung dengan stabilitas harga. Gangguan distribusi internasional dapat menyebabkan biaya transportasi meningkat dan membuat bahan baku maupun produk akhir menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut kemudian dapat memberikan tekanan terhadap inflasi, terutama apabila barang yang terganggu merupakan komoditas penting bagi masyarakat atau industri. Kerja sama antarnegara dapat membantu menciptakan pilihan sumber pasokan ketika salah satu jalur mengalami hambatan. Diversifikasi tersebut mengurangi ketergantungan terhadap satu negara atau satu koridor perdagangan. Namun, ketahanan rantai pasok tetap membutuhkan cadangan strategis dan kapasitas produksi domestik sehingga negara tidak sepenuhnya bergantung pada perdagangan internasional.
Bagi Indonesia, kerja sama tersebut dapat memberikan peluang kepada pelaku usaha nasional untuk memasuki jaringan produksi yang lebih luas. Perusahaan besar maupun usaha menengah berpotensi menjadi pemasok komponen, bahan baku, atau produk akhir untuk pasar negara anggota BRICS. Agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan, kualitas produk dan efisiensi produksi perlu memenuhi standar pasar internasional. Pemerintah juga perlu memperkuat pelabuhan, jaringan transportasi, kawasan industri, dan sistem kepabeanan untuk menekan biaya logistik. Digitalisasi dokumen perdagangan dapat mempercepat proses keluar masuk barang sekaligus meningkatkan transparansi. Peningkatan konektivitas domestik menjadi faktor penting karena manfaat kerja sama internasional akan terbatas apabila distribusi di dalam negeri masih menghadapi biaya tinggi.
Perluasan BRICS membuat skala ekonomi kelompok semakin besar dan beragam. Negara-negara anggotanya mencakup produsen energi, pusat manufaktur, pasar konsumen besar, serta negara dengan sumber daya mineral dan pertanian yang luas. Kondisi tersebut memberikan peluang membangun hubungan ekonomi yang saling melengkapi, tetapi pada saat bersamaan menciptakan tantangan karena kepentingan setiap anggota tidak selalu sama. Kerangka rantai pasok harus dirancang agar tidak menghasilkan ketergantungan baru yang terlalu besar terhadap satu negara. Transparansi, diversifikasi, dan kepentingan bersama menjadi unsur penting agar kerja sama dapat bertahan dalam jangka panjang. Indonesia memiliki kepentingan menjaga keterbukaan sehingga keterlibatan dalam BRICS tetap dapat berjalan berdampingan dengan hubungan ekonomi bersama mitra lainnya.
Sambutan China terhadap usulan Indonesia mengenai kolaborasi rantai pasok menunjukkan adanya ruang untuk membawa kerja sama BRICS menuju program ekonomi yang lebih konkret. Tahap berikutnya akan bergantung pada kemampuan negara anggota menerjemahkan gagasan tersebut menjadi mekanisme perdagangan, investasi, logistik, dan pertukaran teknologi yang dapat dijalankan. Indonesia dapat memanfaatkan proses tersebut untuk memperkuat industri nasional, memperluas pasar ekspor, dan meningkatkan ketahanan terhadap gangguan ekonomi global. Pada saat yang sama, pemerintah perlu memastikan setiap kerja sama memberikan nilai tambah yang seimbang serta tidak menciptakan ketergantungan berlebihan terhadap mitra tertentu. Penguatan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, dan daya saing industri domestik tetap menjadi fondasi agar peluang dari BRICS dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dengan koordinasi yang konsisten, kolaborasi rantai pasok dapat berkembang menjadi salah satu bidang penting dalam hubungan ekonomi Indonesia, China, dan negara-negara BRICS lainnya.