Dhaka, 18 September 2026 – Bangladesh menghadapi salah satu wabah campak terburuk dalam beberapa dekade setelah jumlah kematian yang berkaitan dengan campak dan gejala menyerupai campak menembus lebih dari 1.000 anak. Data otoritas kesehatan menunjukkan wabah yang berkembang sejak pertengahan Maret 2026 belum sepenuhnya dapat dikendalikan meskipun kampanye vaksinasi darurat telah dilakukan dalam skala besar. Hingga 13 September, jumlah gabungan kematian pada kasus terkonfirmasi dan kasus yang diduga campak mencapai 1.022 orang. Dari jumlah tersebut, 100 kematian tercatat pada kasus campak yang dikonfirmasi melalui laboratorium, sedangkan 922 lainnya berada dalam kategori dugaan campak. Dalam periode yang sama, puluhan ribu infeksi terkonfirmasi dan lebih dari 170 ribu kasus dugaan telah tercatat. Besarnya angka tersebut menempatkan anak-anak sebagai kelompok yang paling terdampak dalam krisis kesehatan yang sedang dihadapi Bangladesh.
Lonjakan kasus mulai menjadi perhatian serius sejak Maret ketika rumah sakit menerima semakin banyak pasien anak dengan demam, ruam, batuk, serta gangguan pernapasan. Penyebaran kemudian berlangsung luas dan menjangkau seluruh delapan divisi administratif Bangladesh. Pada tahap awal wabah, sebagian besar pasien merupakan anak berusia di bawah lima tahun, termasuk bayi yang belum mencapai usia untuk menerima vaksin rutin. Ketika situasi dilaporkan secara internasional pada April, kasus telah ditemukan di 58 dari 64 distrik Bangladesh. Anak di bawah lima tahun saat itu mencakup sekitar 79 persen kasus yang dilaporkan, sedangkan anak di bawah dua tahun mencapai sekitar dua pertiga dari keseluruhan kasus. Kondisi tersebut membuat otoritas kesehatan menilai risiko penyebaran di tingkat nasional berada pada kategori tinggi.
Perkembangan berikutnya memperlihatkan wabah terus meluas meskipun berbagai langkah penanggulangan telah dijalankan. Hingga 13 September, tercatat 171.543 kasus dugaan campak dan 20.069 kasus yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Dalam 24 jam sebelum pencatatan tersebut, sebanyak 905 kasus dugaan baru ditemukan dan tiga anak kembali meninggal. Sejak 15 Maret, lebih dari 151 ribu pasien dengan dugaan campak telah menjalani perawatan di rumah sakit di berbagai wilayah Bangladesh. Sebagian besar pasien memang telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik, tetapi jumlah kasus yang tinggi tetap memberikan tekanan besar terhadap fasilitas kesehatan. Rumah sakit anak di Dhaka menjadi salah satu lokasi yang harus menangani banyak pasien dengan kondisi berat selama puncak penyebaran.
Campak merupakan penyakit akibat virus yang sangat mudah menular melalui udara ketika orang yang terinfeksi bernapas, batuk, atau bersin. Gejala umumnya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam yang menyebar ke berbagai bagian tubuh. Sebagian besar penderita dapat pulih, tetapi komplikasi serius dapat terjadi terutama pada bayi, anak kecil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Komplikasi dapat berupa pneumonia, gangguan pernapasan berat, hingga peradangan otak. Tidak terdapat pengobatan antivirus khusus yang secara langsung menyembuhkan campak sehingga pencegahan melalui imunisasi menjadi langkah utama. Tingkat vaksinasi dua dosis sekitar 95 persen diperlukan untuk membantu menghentikan penularan luas dan memberikan perlindungan tidak langsung kepada kelompok yang belum dapat divaksinasi.
Besarnya wabah tahun ini berkaitan erat dengan kesenjangan imunisasi yang terbentuk dalam beberapa tahun terakhir. Bangladesh sebelumnya mencatat kemajuan besar dalam pengendalian campak melalui program vaksinasi nasional. Namun, gangguan pasokan vaksin pada 2024 dan 2025, kesenjangan imunisasi rutin, serta tidak adanya kampanye tambahan campak-rubella secara nasional sejak 2020 meningkatkan jumlah anak yang rentan terhadap infeksi. Cakupan dosis kedua vaksin campak juga mengalami penurunan pada periode sebelum wabah. Ketika jumlah anak yang belum mempunyai kekebalan terus bertambah, virus mendapatkan ruang lebih besar untuk menyebar ketika penularan kembali terjadi. Kondisi itu menjelaskan mengapa wabah dapat berkembang dengan cepat meskipun Bangladesh sebelumnya mempunyai catatan imunisasi yang relatif kuat.
Pemerintah Bangladesh kemudian meluncurkan kampanye vaksinasi campak-rubella darurat mulai 5 April 2026 dengan dukungan lembaga kesehatan internasional. Tahap awal diarahkan kepada lebih dari 1,2 juta anak berusia enam bulan hingga lima tahun di 30 upazila yang berada dalam 18 distrik berisiko tinggi. Program tersebut kemudian diperluas secara bertahap ke wilayah lain dengan target menjangkau jutaan anak. Hingga akhir Juni, lebih dari 18,4 juta anak dilaporkan telah menerima vaksin melalui kampanye nasional. Program imunisasi terus diperluas setelah pemerintah menyadari besarnya kesenjangan perlindungan yang terbentuk sebelum wabah. Meski cakupan kampanye sangat besar, penularan yang sudah meluas membuat dampaknya tidak dapat terlihat secara langsung dalam waktu singkat.
Tantangan lain muncul karena tidak semua anak berhasil dijangkau oleh kampanye imunisasi. Mobilitas masyarakat, kepadatan permukiman, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, serta keraguan sebagian orang tua terhadap vaksin menjadi beberapa hambatan yang dihadapi. Wilayah padat penduduk di Dhaka termasuk kawasan yang sejak awal mencatat beban kasus tinggi. Anak-anak yang tidak memperoleh dosis lengkap mempunyai risiko lebih besar tertular ketika virus beredar luas di lingkungan mereka. Bayi berusia kurang dari sembilan bulan juga menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian karena banyak di antara mereka belum memenuhi jadwal rutin imunisasi ketika terpapar virus. Akumulasi kelompok rentan tersebut membuat upaya mencapai kekebalan masyarakat menjadi semakin sulit meskipun jutaan dosis vaksin telah diberikan.
Besarnya jumlah kematian juga perlu dibaca berdasarkan klasifikasi yang digunakan otoritas kesehatan Bangladesh. Angka lebih dari 1.000 tidak seluruhnya berasal dari pasien yang infeksi campaknya telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Hingga 13 September, 100 kematian dikategorikan sebagai kematian campak terkonfirmasi, sementara 922 lainnya merupakan kematian pada pasien dengan dugaan campak. Pemisahan tersebut penting karena proses konfirmasi laboratorium membutuhkan pemeriksaan tertentu, sedangkan besarnya wabah membuat tidak seluruh pasien dapat dikonfirmasi dengan metode yang sama. Meski demikian, angka gabungan digunakan otoritas untuk menggambarkan skala kematian yang berkaitan dengan wabah dan gejala campak. Dengan demikian, penyebutan lebih dari 1.000 korban meninggal merujuk pada gabungan kasus terkonfirmasi dan dugaan yang dicatat dalam sistem kesehatan Bangladesh.
Situasi pada September memperlihatkan bahwa penanggulangan wabah membutuhkan lebih dari sekadar kampanye vaksinasi satu kali. Penguatan imunisasi rutin menjadi penting agar anak yang terlewat dalam kampanye tetap mendapatkan perlindungan sesuai jadwal. Sistem pengawasan penyakit juga perlu mempertahankan kemampuan mendeteksi kasus secara cepat sehingga rantai penularan dapat ditangani sebelum berkembang lebih luas. Edukasi kepada orang tua mengenai keamanan dan manfaat vaksin menjadi bagian lain yang dibutuhkan untuk mengurangi keraguan terhadap imunisasi. Anak yang menunjukkan demam tinggi, ruam, atau kesulitan bernapas juga memerlukan pemeriksaan medis karena komplikasi dapat berkembang dengan cepat. Pengalaman Bangladesh memperlihatkan bagaimana celah imunisasi selama beberapa tahun dapat menciptakan kelompok rentan dalam jumlah besar dan kemudian memicu wabah ketika virus kembali menyebar.
Wabah campak Bangladesh pada akhirnya menjadi peringatan mengenai pentingnya mempertahankan cakupan imunisasi secara konsisten bahkan ketika jumlah kasus telah turun sangat rendah. Negara tersebut sebelumnya mampu menekan campak secara signifikan, tetapi gangguan program vaksinasi dan bertambahnya anak yang tidak memperoleh perlindungan lengkap mengubah situasi dalam waktu relatif singkat. Lebih dari 1.000 kematian terkait kasus campak terkonfirmasi maupun dugaan dalam waktu sekitar enam bulan menunjukkan beratnya konsekuensi ketika kesenjangan kekebalan terbentuk dalam populasi anak. Kampanye darurat yang telah menjangkau jutaan anak memberikan lapisan perlindungan baru, tetapi pengendalian penuh tetap membutuhkan imunisasi rutin, pengawasan epidemiologi, dan akses cepat terhadap perawatan bagi pasien dengan komplikasi. Pemerintah Bangladesh masih menghadapi tugas besar untuk memutus penularan sekaligus mencegah munculnya kembali wabah serupa. Perkembangan jumlah kasus dan kematian berikutnya akan menjadi indikator penting untuk menilai seberapa efektif langkah penanggulangan yang telah dilakukan sepanjang 2026.