Jakarta, 19 Mei 2026 – Sebuah kawasan perumahan di Depok sempat terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 70 sentimeter setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Genangan air menyebabkan aktivitas warga terganggu karena sebagian jalan lingkungan dan rumah warga tidak dapat dilalui untuk sementara waktu. Sejumlah kendaraan juga terlihat terparkir di area yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan akibat genangan air. Aparat pemerintah daerah bersama petugas terkait langsung turun ke lokasi untuk membantu penanganan banjir dan memastikan kondisi warga tetap aman selama genangan masih berlangsung. Setelah debit air berangsur turun dan cuaca mulai membaik, banjir kini dilaporkan telah surut dan aktivitas masyarakat mulai kembali normal secara bertahap.
Menurut keterangan warga, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan saluran drainase di kawasan perumahan tidak mampu menampung volume air yang datang dalam waktu singkat. Akibatnya, air meluap ke jalan lingkungan dan masuk ke sejumlah rumah warga yang berada di titik lebih rendah. Pengamat lingkungan perkotaan menjelaskan bahwa banjir di kawasan permukiman perkotaan sering dipengaruhi kombinasi antara curah hujan tinggi, sistem drainase yang terbatas, dan kepadatan pembangunan. Selain faktor hujan, kondisi saluran air yang tersumbat sampah juga sering memperparah genangan di kawasan permukiman padat. Oleh sebab itu, pengelolaan drainase dan tata lingkungan menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko banjir di wilayah perkotaan seperti Depok.
Selama banjir berlangsung, warga bersama petugas disebut sempat melakukan upaya darurat untuk mengurangi dampak genangan, termasuk membersihkan saluran air dan memindahkan barang-barang penting ke tempat yang lebih aman. Sejumlah keluarga juga memilih bertahan di rumah sambil menunggu air surut karena genangan dinilai belum mencapai tingkat yang membahayakan keselamatan. Pengamat kebencanaan menilai respons cepat warga dan aparat lokal memiliki peran penting dalam mengurangi risiko kerugian saat banjir terjadi. Selain itu, koordinasi antara pemerintah daerah dan masyarakat juga dianggap penting untuk mempercepat proses penanganan serta pemulihan pascabanjir. Setelah air mulai surut, warga kini mulai membersihkan rumah dan lingkungan dari sisa lumpur maupun sampah yang terbawa arus genangan.
Banjir di kawasan penyangga ibu kota seperti Depok memang masih menjadi tantangan yang kerap muncul terutama saat curah hujan tinggi. Pengamat tata kota menilai pertumbuhan permukiman yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi dengan kapasitas drainase dan ruang resapan air yang memadai. Kondisi tersebut menyebabkan air hujan lebih mudah menggenang di kawasan padat penduduk ketika hujan turun dalam intensitas tinggi. Pemerintah daerah disebut terus melakukan evaluasi dan perbaikan infrastruktur pengendalian banjir, termasuk normalisasi saluran air dan peningkatan kapasitas drainase di sejumlah titik rawan genangan. Namun banyak pihak juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan agar sistem drainase dapat berfungsi secara optimal.
Kini setelah genangan air surut, aktivitas warga di kawasan perumahan tersebut mulai kembali berjalan meski sebagian masih melakukan pembersihan rumah dan lingkungan sekitar. Banyak warga berharap pemerintah daerah dapat melakukan langkah antisipasi jangka panjang agar banjir serupa tidak kembali terjadi saat hujan deras melanda. Pengamat lingkungan menilai penanganan banjir perkotaan membutuhkan kombinasi antara pembangunan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga sistem drainase. Dengan kondisi yang mulai normal, perhatian kini tertuju pada upaya evaluasi dan perbaikan agar kawasan permukiman di Depok lebih siap menghadapi potensi cuaca ekstrem di masa mendatang.