Jakarta, 21 September 2026 – Biaya yang harus ditanggung militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran diperkirakan telah mencapai sedikitnya US$43,6 miliar hingga 3 September 2026 atau lebih dari Rp706 triliun dengan asumsi kurs sekitar Rp16.200 per dolar AS. Angka terbaru tersebut berasal dari perhitungan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM yang disampaikan kepada Kongres. Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 itu membuat pengeluaran pertahanan AS meningkat cepat hanya dalam hitungan bulan. Sebagian besar biaya berasal dari kebutuhan mengganti rudal, bom, dan berbagai jenis amunisi yang telah digunakan. Perhitungan tersebut juga belum memasukkan seluruh kerusakan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah. Dengan demikian, biaya keseluruhan yang akhirnya harus ditanggung pemerintah AS masih berpotensi lebih tinggi.
Dari total US$43,6 miliar, sekitar US$11,2 miliar merupakan biaya tambahan untuk menjalankan operasi militer. Pengeluaran tersebut mencakup bahan bakar, operasi pesawat dan kapal perang, pembayaran terkait penugasan tempur, perawatan medis, suku cadang, serta berbagai kebutuhan operasional lainnya. Porsi terbesar justru berasal dari kebutuhan mengganti amunisi yang telah digunakan, dengan nilainya diperkirakan mencapai US$28,1 miliar. Sementara sekitar US$4,3 miliar lainnya dibutuhkan untuk mengganti peralatan militer yang rusak atau hilang selama operasi. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan persenjataan menjadi faktor paling besar dalam lonjakan biaya perang. Angka penggantian amunisi sendiri meningkat tajam dibandingkan estimasi sebelumnya.
Besarnya penggunaan amunisi tidak terlepas dari intensitas serangan dan kebutuhan mempertahankan pangkalan maupun pasukan AS dari serangan balasan Iran. Sistem pertahanan udara seperti Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD membutuhkan rudal pencegat dengan harga tinggi untuk menghadapi rudal serta drone. Selain melakukan serangan terhadap sasaran Iran, militer AS harus mempertahankan berbagai fasilitasnya yang tersebar di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat amunisi ofensif dan defensif sama-sama digunakan dalam jumlah besar. Kekhawatiran kemudian muncul mengenai kemampuan AS mengganti persediaan senjata dengan kecepatan yang sebanding dengan tingkat penggunaannya. Kekurangan stok tertentu dapat memengaruhi kesiapan militer apabila Washington harus menghadapi krisis lain secara bersamaan.
Perhitungan CENTCOM juga menunjukkan besarnya biaya operasional masing-masing matra. Angkatan Udara AS mencatat pengeluaran operasional lebih dari US$6,6 miliar, menjadikannya salah satu komponen terbesar dalam operasi tersebut. Angkatan Laut menghabiskan sekitar US$2,2 miliar, sedangkan biaya operasional Angkatan Darat berada di kisaran US$1,6 miliar. Besarnya biaya Angkatan Udara berkaitan dengan penggunaan pesawat tempur, pengebom, pengisian bahan bakar di udara, pengintaian, serta berbagai misi pendukung. Angkatan Laut pada saat yang sama mengoperasikan kapal perang dan aset lainnya di kawasan untuk mendukung serangan maupun pertahanan. Angka tersebut menggambarkan besarnya sumber daya yang diperlukan untuk mempertahankan operasi militer selama berbulan-bulan.
Estimasi terbaru CENTCOM lebih tinggi dibandingkan perhitungan Congressional Budget Office (CBO) yang sebelumnya memperkirakan perang telah menghabiskan sekitar US$38 miliar hingga 1 Agustus 2026. CBO memperkirakan konflik dapat terus menambah pengeluaran sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar setiap bulan, bergantung pada intensitas pertempuran. Selisih angka tersebut antara lain dipengaruhi periode penghitungan serta kategori biaya yang digunakan dalam masing-masing estimasi. Pengeluaran militer juga terus bertambah setelah awal Agustus sehingga perhitungan terbaru menunjukkan angka yang lebih besar. CBO memperkirakan pengisian kembali persediaan amunisi tertentu dapat membutuhkan waktu hingga beberapa tahun. Situasi tersebut menjadi perhatian karena persediaan senjata merupakan bagian penting dari kesiapan pertahanan AS menghadapi kemungkinan konflik lain.
Biaya US$43,6 miliar juga belum menggambarkan seluruh konsekuensi finansial perang. Perhitungan CENTCOM belum sepenuhnya memasukkan biaya untuk memperbaiki atau membangun kembali pangkalan militer AS yang rusak akibat serangan Iran. Serangan rudal dan drone Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas militer Amerika di sejumlah negara Timur Tengah. Biaya jangka panjang untuk perawatan personel yang terluka, penggantian infrastruktur, serta pembiayaan utang yang digunakan untuk mendukung operasi juga dapat menambah beban. Karena itu, sejumlah pejabat dan anggota Kongres menilai angka yang tersedia saat ini belum dapat dianggap sebagai perhitungan akhir. Nilai perang akan terus berubah selama operasi berlangsung dan kerusakan tambahan masih terjadi.
Selain persoalan anggaran, tingginya konsumsi persenjataan menjadi perhatian dalam pembahasan kesiapan militer AS. CBO menilai pengurangan stok amunisi penting dapat membatasi fleksibilitas Pentagon apabila muncul konflik besar di wilayah lain. Kondisi tersebut membuat pemerintah membutuhkan dana tambahan untuk mempercepat produksi sekaligus mengganti senjata yang sudah digunakan. Pemerintah AS juga sedang meminta dukungan anggaran pertahanan yang sangat besar serta paket pendanaan tambahan untuk kebutuhan perang dan prioritas pertahanan lainnya. Perdebatan di Kongres kemudian tidak hanya membahas biaya operasi saat ini, tetapi juga kebutuhan mempertahankan stok senjata dalam jangka panjang. Kemampuan industri pertahanan meningkatkan produksi menjadi faktor penting karena sejumlah sistem persenjataan membutuhkan waktu lama untuk dibuat.
Dampak ekonomi konflik juga melampaui anggaran militer. Gangguan terhadap pengiriman minyak dan gas di kawasan Teluk, termasuk melalui Selat Hormuz, telah meningkatkan risiko terhadap pasokan energi dunia. Sebelum perang, jalur tersebut menjadi salah satu koridor terpenting bagi perdagangan minyak global. CBO memperkirakan gangguan energi akibat konflik dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi Amerika Serikat. Kenaikan harga energi juga berpotensi memengaruhi biaya transportasi, produksi, dan kebutuhan rumah tangga. Dengan demikian, biaya ekonomi perang tidak seluruhnya tercermin dalam pengeluaran Pentagon karena terdapat dampak tidak langsung yang harus ditanggung konsumen maupun sektor usaha.
Estimasi lebih dari Rp706 triliun akhirnya menunjukkan besarnya beban finansial yang telah muncul dalam sekitar enam bulan pertama perang AS-Iran. Angka US$43,6 miliar masih merupakan estimasi hingga 3 September dan dapat terus bertambah apabila operasi militer berlanjut dengan intensitas tinggi. Penggantian amunisi senilai US$28,1 miliar menjadi komponen terbesar, disusul biaya operasional dan penggantian peralatan yang rusak atau hilang. Pada saat bersamaan, kerusakan pangkalan dan sejumlah biaya jangka panjang belum seluruhnya masuk dalam perhitungan. CBO sebelumnya memperkirakan tambahan pengeluaran dapat mencapai US$3 miliar setiap bulan apabila tingkat pertempuran tetap tinggi. Perkembangan konflik dan keputusan pendanaan Kongres selanjutnya akan menentukan seberapa besar total biaya yang akhirnya harus ditanggung pemerintah Amerika Serikat.