Jakarta, 19 September 2026 – Infeksi menular seksual (IMS) tidak hanya menimbulkan keluhan pada organ reproduksi, tetapi dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan komplikasi yang mengganggu kesuburan wanita apabila tidak ditangani. Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dr. Radema Maradong Ayu Pranata, Sp.DVE menjelaskan bahwa infeksi seperti gonore yang berlangsung lama tanpa pengobatan dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan. Risiko tersebut terutama muncul ketika infeksi menyebar ke organ reproduksi bagian atas dan berkembang menjadi penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID). Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan serta pembentukan jaringan parut pada saluran reproduksi. Kerusakan yang sudah terjadi pada tuba falopi dapat menghambat proses pertemuan sel telur dengan sperma. Karena itu, IMS yang tidak menunjukkan gejala sekalipun tidak seharusnya diabaikan.
Gonore menjadi salah satu IMS yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat terjadi pada pria maupun wanita dan sebagian penderitanya tidak menunjukkan gejala yang jelas. Dr. Radema sebelumnya menegaskan bahwa anggapan gonore yang dibiarkan menahun tanpa pengobatan dapat menyebabkan gangguan kesuburan bukan sekadar mitos. Pada wanita, infeksi yang tidak tertangani dapat bergerak dari bagian bawah saluran reproduksi menuju rahim dan tuba falopi. Perjalanan infeksi tersebut dapat memicu PID yang kemudian menimbulkan kerusakan pada jaringan reproduksi. Semakin lama kondisi tidak mendapatkan penanganan, kemungkinan munculnya komplikasi juga dapat meningkat. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan ketika seseorang mencurigai dirinya terpapar IMS meskipun keluhannya terasa ringan.
Chlamydia juga termasuk infeksi yang dapat memberikan dampak terhadap sistem reproduksi wanita. Infeksi yang disebabkan bakteri Chlamydia trachomatis ini sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang dapat tidak menyadari dirinya terinfeksi. Meski tanpa gejala, infeksi tetap dapat menyebabkan masalah kesehatan serius dan merusak sistem reproduksi. Apabila tidak diobati, chlamydia dapat berkembang menjadi PID dan memicu terbentuknya jaringan parut yang menyumbat tuba falopi. Kondisi tersebut dapat membuat seorang wanita mengalami kesulitan untuk hamil. Selain infertilitas, kerusakan pada tuba falopi juga meningkatkan risiko kehamilan ektopik atau kehamilan yang berkembang di luar rahim.
PID pada dasarnya merupakan infeksi pada organ reproduksi wanita yang dapat melibatkan rahim, tuba falopi, ovarium, serta jaringan di sekitarnya. Gonore dan chlamydia termasuk penyebab yang sering dikaitkan dengan kondisi tersebut, meskipun PID juga dapat berhubungan dengan mikroorganisme lain. Gejalanya tidak selalu berat sehingga sebagian wanita baru menyadari masalah ketika komplikasi telah berkembang. Keluhan yang dapat muncul antara lain nyeri pada perut bagian bawah, demam, keputihan dengan bau tidak biasa, rasa sakit atau perdarahan ketika berhubungan seksual, sensasi terbakar saat buang air kecil, serta perdarahan di antara periode menstruasi. Namun, sebagian kasus dapat memberikan gejala ringan atau bahkan tidak disadari. Kondisi tanpa gejala yang jelas inilah yang membuat deteksi dan pengobatan dini menjadi penting.
Hubungan antara PID dan infertilitas terjadi ketika proses peradangan menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada saluran reproduksi. Jaringan parut di dalam maupun di sekitar tuba falopi dapat menyebabkan penyempitan atau penyumbatan sehingga perjalanan sel telur menuju rahim terganggu. CDC mencatat sekitar satu dari delapan wanita yang memiliki riwayat PID mengalami kesulitan untuk hamil. Risiko komplikasi juga dapat meningkat apabila seseorang mengalami PID berulang kali. Selain infertilitas, PID dapat menyebabkan nyeri panggul atau perut dalam jangka panjang. Kehamilan ektopik juga menjadi komplikasi yang perlu diperhatikan karena embrio dapat berkembang di luar rongga rahim. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan medis karena dapat menimbulkan komplikasi serius.
Meski demikian, mengalami IMS tidak berarti seseorang secara otomatis akan mengalami kemandulan. Risiko sangat dipengaruhi oleh jenis infeksi, lamanya infeksi berlangsung, apakah infeksi telah menyebar, kejadian PID, infeksi berulang, serta seberapa cepat pengobatan diberikan. Chlamydia maupun gonore dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, tetapi obat tidak dapat mengembalikan kerusakan permanen yang sudah terjadi pada sistem reproduksi. Hal serupa berlaku pada PID karena pengobatan dapat mengatasi infeksi yang sedang berlangsung, tetapi tidak selalu mampu memperbaiki jaringan parut yang telah terbentuk. Oleh sebab itu, diagnosis dan terapi sedini mungkin berperan penting dalam mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. Pasien juga perlu mengikuti pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan meskipun gejala sudah menghilang.
Persoalan lainnya adalah IMS dapat menular kembali apabila pasangan seksual tidak ikut mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukan. Pada chlamydia dan gonore, CDC menyarankan pasangan mendapatkan pelayanan medis karena seseorang dapat terinfeksi tanpa mengetahui keberadaan penyakit tersebut. Pasien yang telah menjalani terapi juga dapat mengalami infeksi kembali apabila melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang masih terinfeksi. Untuk kasus chlamydia atau gonore yang telah diobati, pemeriksaan ulang sekitar tiga bulan setelah pengobatan dianjurkan karena reinfeksi cukup sering terjadi. Pada wanita yang mengalami PID akibat chlamydia atau gonore, pemeriksaan ulang juga dianjurkan setelah pengobatan. Upaya tersebut penting karena episode infeksi berulang dapat kembali meningkatkan risiko kerusakan pada sistem reproduksi.
Pencegahan menjadi bagian penting untuk menurunkan risiko IMS dan komplikasi yang dapat ditimbulkannya. Penggunaan kondom secara benar dan konsisten dapat membantu mengurangi risiko penularan sejumlah IMS ketika seseorang aktif secara seksual. Hubungan monogami jangka panjang dengan pasangan yang telah menjalani pemeriksaan dan diketahui tidak terinfeksi IMS juga dapat menurunkan risiko. Pemeriksaan perlu dipertimbangkan ketika seseorang mempunyai pasangan baru, lebih dari satu pasangan, pasangan yang memiliki pasangan seksual lain, atau mengetahui pasangannya mengalami IMS. CDC juga merekomendasikan skrining tahunan chlamydia dan gonore bagi wanita yang aktif secara seksual dan berusia di bawah 25 tahun, serta wanita yang lebih tua apabila memiliki faktor risiko tertentu. Pemeriksaan penting karena tidak adanya keluhan tidak dapat digunakan sebagai jaminan bahwa seseorang terbebas dari infeksi.
Dengan demikian, IMS memang dapat berkontribusi terhadap infertilitas wanita apabila infeksi tertentu tidak didiagnosis dan ditangani hingga menyebabkan kerusakan pada organ reproduksi. Gonore dan chlamydia merupakan dua contoh penting karena keduanya dapat berkembang menjadi PID dan menyebabkan jaringan parut pada tuba falopi. Namun, gangguan kesuburan bukan konsekuensi yang pasti terjadi pada setiap orang yang mengalami IMS. Penanganan dini dapat menghentikan infeksi dan membantu mencegah sebagian komplikasi sebelum kerusakan permanen terbentuk. Wanita yang mengalami nyeri panggul, keputihan tidak biasa, perdarahan di luar menstruasi, nyeri saat berhubungan seksual atau merasa pernah terpapar IMS sebaiknya mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan. Deteksi dan pengobatan yang cepat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan reproduksi sekaligus mengurangi risiko gangguan kesuburan pada kemudian hari.