Jakarta, 29 Agustus 2026 – Amerika Serikat memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran melalui paket sanksi baru yang menyasar jaringan pendukung perdagangan minyak, pengadaan teknologi, hingga aktivitas keuangan yang terkait dengan Teheran. Kebijakan tersebut berpotensi menempatkan China dalam posisi sulit karena Beijing merupakan salah satu mitra ekonomi terpenting Iran.
Washington meluncurkan apa yang disebut sebagai Operation Economic Outcast pada 24 Agustus 2026. Pemerintah AS menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk memutus berbagai jalur ekonomi yang menopang pemerintah Iran, termasuk jaringan perusahaan dan kapal yang beroperasi di China, Hong Kong, Uni Emirat Arab, Singapura, Swiss, dan sejumlah wilayah lainnya.
China Jadi Mitra Penting Iran
China memiliki posisi penting bagi perekonomian Iran karena menjadi pembeli utama minyak negara tersebut. Hubungan kedua negara juga mencakup sektor perbankan, teknologi, perdagangan, serta barang-barang yang memiliki penggunaan sipil maupun militer.
Besarnya hubungan perdagangan membuat Beijing tidak mudah begitu saja memutus kerja sama dengan Teheran. China juga memandang hubungan ekonomi dengan Iran sebagai bagian dari kepentingan strategisnya di Timur Tengah.
Di sisi lain, Washington ingin menggunakan tekanan terhadap negara-negara yang tetap mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran untuk mempersempit ruang gerak Teheran.
Washington Ancam Negara Pendukung Iran
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa negara dan perusahaan yang tetap melakukan transaksi dengan Iran dapat menghadapi konsekuensi dari kebijakan sanksi Amerika Serikat.
Tekanan tersebut tidak hanya diarahkan kepada perusahaan Iran. Sejumlah entitas yang berada di luar Iran juga masuk dalam daftar sasaran karena diduga membantu perdagangan minyak, pengadaan teknologi, atau aktivitas lain yang mendukung Teheran.
Langkah tersebut meningkatkan risiko bagi perusahaan China yang memiliki hubungan bisnis dengan Iran, terutama jika Washington mulai menerapkan sanksi sekunder secara lebih luas.
Beijing Kecam Sanksi AS
China langsung menolak kebijakan baru Washington. Pemerintah China menyebut sanksi sepihak dan tekanan ekonomi tidak akan menyelesaikan persoalan, tetapi justru berpotensi memperburuk konflik di Timur Tengah.
Beijing juga menegaskan bahwa kerja sama China dengan Iran dilakukan dalam kerangka hukum internasional dan tidak seharusnya mendapat campur tangan dari negara lain.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa China belum menunjukkan tanda-tanda akan mengikuti keinginan Washington untuk memutus hubungan ekonomi dengan Teheran.
Namun China Tidak Ingin Konfrontasi Besar
Meski mempertahankan hubungan dengan Iran, China juga memiliki kepentingan untuk menjaga hubungan dengan Amerika Serikat. Kedua negara sedang berupaya mengelola berbagai persoalan perdagangan dan dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi pada September.
Karena itu, Beijing diperkirakan akan berhati-hati dalam merespons tekanan Washington. China dapat mempertahankan hubungan ekonominya dengan Iran tanpa mengambil langkah yang secara langsung memicu konfrontasi besar dengan AS.
Sejumlah analis menilai hubungan China-Iran tetap penting bagi Beijing, tetapi Iran bukan satu-satunya mitra strategis China di kawasan.
Iran Bergantung pada Pasar China
Tekanan AS juga dapat memberikan dampak besar terhadap Iran. Dengan perekonomian yang sudah menghadapi tekanan akibat konflik dan pembatasan perdagangan, kemampuan menjual minyak menjadi salah satu sumber pendapatan paling penting bagi Teheran.
China menjadi pasar utama bagi minyak Iran. Karena itu, jika perusahaan dan lembaga keuangan China semakin takut terkena sanksi Amerika, Iran dapat menghadapi kesulitan lebih besar dalam mempertahankan arus ekspor dan pemasukan negara.
Potensi Perpecahan China dan Iran?
Meski muncul tekanan ekonomi, belum ada indikasi kuat bahwa hubungan China dan Iran akan segera retak. Justru kondisi tersebut dapat mendorong kedua negara mencari cara untuk mempertahankan kerja sama sambil mengurangi risiko terkena sanksi Amerika.
China memiliki kepentingan ekonomi dan geopolitik di Iran, sementara Teheran membutuhkan China sebagai salah satu mitra perdagangan terpentingnya. Hubungan tersebut membuat keduanya memiliki alasan kuat untuk tetap bekerja sama.
Namun, semakin agresif Washington menerapkan sanksi sekunder, semakin besar pula dilema yang harus dihadapi perusahaan dan pemerintah China.
Hubungan AS-China Ikut Dipertaruhkan
Persoalan Iran juga dapat menjadi bagian dari dinamika hubungan Amerika Serikat dan China yang lebih luas. Washington berusaha menekan Iran, tetapi pada saat yang sama tidak ingin merusak upaya memperbaiki hubungan dengan Beijing.
Jika perusahaan atau bank besar China nantinya menjadi sasaran langsung sanksi AS, respons Beijing kemungkinan akan jauh lebih keras. Situasi tersebut dapat memperlebar perselisihan kedua negara di luar isu Iran.
Karena itu, kebijakan terhadap Iran berpotensi menjadi ujian baru bagi hubungan Washington dan Beijing dalam beberapa pekan mendatang.
Iran Berusaha Bertahan
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran berupaya meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika. Teheran juga terus mencari jalur perdagangan alternatif untuk mempertahankan aktivitas ekonominya.
Sementara itu, China tetap menempatkan dirinya sebagai negara yang mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik. Beijing juga berusaha menjaga hubungan dengan berbagai negara di kawasan Teluk sehingga tidak sepenuhnya terjebak dalam persaingan antara Iran dan Amerika Serikat.
Sanksi baru AS memang berpotensi menimbulkan ketegangan antara China dan Iran, tetapi belum menunjukkan tanda bahwa hubungan kedua negara akan segera pecah. China masih memiliki kepentingan besar di Iran, terutama dalam perdagangan minyak dan hubungan ekonomi, sementara Beijing juga perlu menjaga hubungan dengan Washington. Jika Amerika Serikat mulai menjatuhkan sanksi sekunder kepada bank atau perusahaan besar China, perselisihan tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik ekonomi dan diplomatik yang lebih luas.