Jakarta, 7 Oktober 2026 –
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan bernama TREX-AI untuk membantu mendeteksi indikasi ekstremisme agama di media sosial. Teknologi tersebut dirancang untuk membaca dan menganalisis pola konten digital yang berpotensi mengarah pada narasi ekstrem. Pengembangan TREX-AI menjadi bagian dari pemanfaatan teknologi untuk memahami dinamika penyebaran informasi keagamaan di ruang digital. Sistem ini diharapkan dapat mendukung penelitian serta upaya pencegahan terhadap penyebaran konten berisiko. Kehadirannya juga menunjukkan semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan dalam kajian sosial dan keagamaan.
TREX-AI bekerja dengan memanfaatkan kemampuan pemrosesan data untuk menganalisis konten yang beredar di media sosial. Teknologi kecerdasan buatan memungkinkan sejumlah besar teks dan pola komunikasi diproses dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan pemeriksaan secara manual. Sistem kemudian dapat membantu mengenali karakteristik tertentu yang berkaitan dengan narasi ekstremisme. Namun, hasil identifikasi berbasis AI tidak semestinya langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa seseorang atau kelompok memiliki pandangan ekstrem. Analisis manusia tetap diperlukan untuk memahami konteks, bahasa, serta maksud dari suatu unggahan.
Kemampuan memahami konteks menjadi tantangan penting karena percakapan di media sosial mempunyai karakter yang sangat beragam. Satu kata atau frasa dapat memiliki arti berbeda bergantung pada situasi ketika digunakan. Unggahan yang membahas ekstremisme untuk kepentingan pendidikan atau kritik, misalnya, tidak dapat diperlakukan sama dengan konten yang mendorong kekerasan. Bahasa lokal, istilah keagamaan, ironi, kutipan, dan perubahan tren komunikasi juga dapat memengaruhi akurasi sebuah sistem. Karena itu, teknologi pendeteksi membutuhkan pengembangan dan evaluasi secara berkelanjutan.
Penggunaan TREX-AI berpotensi membantu peneliti memetakan pola penyebaran narasi ekstrem di ruang digital. Data yang dianalisis dapat digunakan untuk memahami bagaimana sebuah gagasan berkembang, jenis narasi yang digunakan, serta perubahan pola percakapan dari waktu ke waktu. Informasi tersebut dapat menjadi bahan untuk menyusun pendekatan pencegahan yang lebih tepat. Alih-alih hanya bereaksi ketika sebuah konten telah menyebar luas, pemetaan dapat membantu mengenali kecenderungan lebih awal. Pendekatan berbasis data juga memungkinkan penelitian dilakukan terhadap percakapan digital dalam skala yang lebih besar.
Meski demikian, penggunaan kecerdasan buatan untuk menganalisis isu agama membutuhkan kehati-hatian tinggi. Kesalahan klasifikasi dapat menimbulkan persoalan apabila konten keagamaan yang sah justru dianggap sebagai bentuk ekstremisme. Definisi serta indikator yang digunakan sistem perlu disusun secara transparan dan diuji terhadap berbagai konteks. Perbedaan pandangan keagamaan juga tidak dapat dengan sendirinya dipersamakan dengan ekstremisme. Fokus analisis perlu diarahkan pada indikator yang relevan, terutama narasi yang berkaitan dengan intoleransi ekstrem, hasutan, atau dukungan terhadap kekerasan.
Aspek privasi dan pelindungan data juga menjadi perhatian dalam penggunaan teknologi semacam TREX-AI. Analisis media sosial harus memperhatikan ketentuan mengenai penggunaan data serta hak pengguna platform digital. Teknologi sebaiknya digunakan untuk membaca kecenderungan dan pola secara proporsional, bukan menjadi alat untuk memberikan label kepada seseorang tanpa proses penilaian yang memadai. Pengawasan manusia menjadi penting untuk mengurangi risiko bias algoritma maupun kesalahan interpretasi. Prinsip akuntabilitas juga diperlukan agar penggunaan teknologi dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan etis.
Pengembangan TREX-AI sekaligus membuka peluang kolaborasi antara bidang teknologi informasi, studi keagamaan, ilmu sosial, dan kebijakan publik. Penanganan ekstremisme di internet tidak cukup hanya menggunakan pendekatan teknologi karena persoalannya berkaitan dengan faktor sosial, pendidikan, ekonomi, serta lingkungan. Kecerdasan buatan dapat menjadi alat bantu untuk mengidentifikasi pola, sementara analisis mengenai penyebab dan langkah pencegahan tetap membutuhkan keterlibatan manusia. Kolaborasi lintas disiplin dapat membantu menghasilkan interpretasi yang lebih akurat. Pendekatan tersebut juga penting untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada keputusan algoritma.
Kehadiran TREX-AI menunjukkan upaya UIN Jakarta memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan untuk menjawab persoalan yang muncul di ruang digital. Teknologi tersebut berpotensi memperkuat kemampuan penelitian dan deteksi dini terhadap penyebaran narasi ekstremisme agama di media sosial. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada akurasi sistem, kualitas data, pemahaman konteks, serta mekanisme pengawasan yang diterapkan. Pelindungan kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, dan privasi juga perlu tetap menjadi pertimbangan utama. Dengan penggunaan yang terukur, teknologi AI dapat menjadi salah satu instrumen pendukung untuk membangun ruang digital yang lebih aman tanpa mengabaikan hak masyarakat.